Rabu, 17 April 2013

PENGAMPUNAN YANG SEJATI

Oleh: Ev. Lenis Kogoya.

Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.  Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup." Tetapi firman TUHAN: "Layakkah engkau marah?"…." (Yunus  4:1-4).

Pengampunan dosa merupakan sebuah berita agung yang di bawa sekaligus dikerjakan Tuhan Yesus melalui karya-Nya di Kalvari. Berita dan karya sungguh agung, sebab perseteruan antara manusia dengan Allah akibat ketidaktaatan manusia kepada perintah-Nya itu akhirnya didamaikan di dalam diri-Nya di kayu salib. Ketidaktaatan yang merupakan penolakkan manusia untuk mentaatai Allah tetapi lebih menuruti kata-kata Iblis yang menimbulkan permusuhan antara Allah manusia. Karena itu, Allah hendak memurkai manusia dengan menghukum dunia dan menuntut kekudusan-Nya. Namun sekali lagi dipertegas di sini bahwa Allah telah mengampuni dan mendamaikan perseteruan itu di dalam diri-Nya, yakni melalui karya  penyelamatan di kayu salib. Hal ini terjadi dan didasari dengan KASIH ALLAH yang begitu besar akan dunia ini. Jadi sekarang tidak ada permusuhan, tidak ada orang asing, tidak ada perbedaan bahkan tidak ada kematian. Tetapi yang ada adalah persaudaraan, kekeluargaan, kedamaian, sukacita, saling menerima, saling mengutamakan, bahkan memperoleh hidup yang kekal yang didasari dengan KASIH ALLAH yang diperoleh melalui iman.

Dari bacaan dalam kitab Yunus secara keseluruhan menunjukkan bahwa terlihat dua sifat yang bertolak belakang di dalam menyatakan kasih dan pengampunan kepada orang Niniwe. Sifat tersebut adalah sifat Allah yang mau mengampuni dan menyelamatkan dengan kasih itu dipertentangkan dengan sifat Yunus yang tidak ingin musuhnya diselamatkan, yang sesungguhnya didominasi dengan sifat iri dan cemburu. Segala tindakkan Yunus didasari dengan sifat iri sehingga segala cara dilakukan untuk mencapai niatnya, namun hal itu tidak akan tercapai sebab Allah lebih berkuasa atas alam dan ciptaan-Nya. Karena itu dengan cara Allah sendiri telah dibawah sampai ke Niniwe untuk memberitakan kabar tentang “pengampunan dosa dan pertobatan” kepada orang Niniwe. Akhirnya dengan cara Allah yang tak selami oleh Yunus tersebut, telah menyelamtkan mereka dan mendapat kasih karunia Allah, sebab mereka bertobat sungguh-sungguh. Dan realitas pertobatan itu membuat Yunus semakin benci dan kecewa sama Tuhan, sehingga dia merasa hidup ini tidak ada artinya, sehingga dia mengatakan “lebih baik aku mati saja,” dari pada melihat musuhnya masih hidup.  Jadi kecemburuan dan iri hati hampir menghabisi nyawanya sendiri bukan nyawa musuhnya. Namun melalui cara ini Tuhan mau mengajar Yunus untuk memahami Allah secara benar dan sungguh-sungguh tentang KASIH-NYA yang besar akan dunia tanpa memandang atau membedakan.   

Saudaraku yang terkasih, amanat agung dalam versi Lukas adalah pemberitaan berita tentang “pengampunan dosa dan pertobatan” (24:47). Berita tersebut menjadi tugas gereja yang harus diberitakan kepada manusia di bumi.  Karena itu, sebagai anak Allah perlu melakukan perkara besar ini kepada siapa saja yang dianggap mengganggu atau musuh.  Iri hati dan kecemburuan bahkan permusuhan / perselisihan membawa diri sendiri kepada kehancuran. Itulah sebab perlu adanya inisiatif dari dalam dirinya untuk mengasihi musuh, bersikap positif atas segala persoalan dan selalu didasari dengan kasih agape (bukan kasih eros atau fhileo).  Memang sulit dipraktekan, namun percayalah dan berserah kepada Allah, maka PASTI Dia akan memampukan saudara untuk melakukan perkara besar ini sebelum sambut jumaat agung. SAMBUTLAH PASKAH DENGAN SUKACITA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar