Oleh: Ev. Lenis Kogoya.
“Tetapi
hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya:
"Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku?
Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu,
bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan
berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak
didatangkan-Nya. Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena
lebih baik aku mati dari pada hidup." Tetapi firman TUHAN: "Layakkah
engkau marah?"…." (Yunus 4:1-4).
Pengampunan dosa merupakan sebuah
berita agung yang di bawa sekaligus dikerjakan Tuhan Yesus melalui karya-Nya di
Kalvari. Berita dan karya sungguh agung, sebab perseteruan antara manusia
dengan Allah akibat ketidaktaatan manusia kepada perintah-Nya itu akhirnya
didamaikan di dalam diri-Nya di kayu salib. Ketidaktaatan yang merupakan
penolakkan manusia untuk mentaatai Allah tetapi lebih menuruti kata-kata Iblis
yang menimbulkan permusuhan antara Allah manusia. Karena itu, Allah hendak
memurkai manusia dengan menghukum dunia dan menuntut kekudusan-Nya. Namun
sekali lagi dipertegas di sini bahwa Allah telah mengampuni dan mendamaikan
perseteruan itu di dalam diri-Nya, yakni melalui karya penyelamatan di kayu salib. Hal ini terjadi
dan didasari dengan KASIH ALLAH yang begitu besar akan dunia ini. Jadi sekarang
tidak ada permusuhan, tidak ada orang asing, tidak ada perbedaan bahkan tidak
ada kematian. Tetapi yang ada adalah persaudaraan, kekeluargaan, kedamaian,
sukacita, saling menerima, saling mengutamakan, bahkan memperoleh hidup yang
kekal yang didasari dengan KASIH ALLAH yang diperoleh melalui iman.
Dari bacaan dalam kitab Yunus secara
keseluruhan menunjukkan bahwa terlihat dua sifat yang bertolak belakang di
dalam menyatakan kasih dan pengampunan kepada orang Niniwe. Sifat tersebut
adalah sifat Allah yang mau mengampuni dan menyelamatkan dengan kasih itu
dipertentangkan dengan sifat Yunus yang tidak ingin musuhnya diselamatkan, yang
sesungguhnya didominasi dengan sifat iri dan cemburu. Segala tindakkan Yunus
didasari dengan sifat iri sehingga segala cara dilakukan untuk mencapai
niatnya, namun hal itu tidak akan tercapai sebab Allah lebih berkuasa atas alam
dan ciptaan-Nya. Karena itu dengan cara Allah sendiri telah dibawah sampai ke
Niniwe untuk memberitakan kabar tentang “pengampunan dosa dan pertobatan”
kepada orang Niniwe. Akhirnya dengan cara Allah yang tak selami oleh Yunus
tersebut, telah menyelamtkan mereka dan mendapat kasih karunia Allah, sebab
mereka bertobat sungguh-sungguh. Dan realitas pertobatan itu membuat Yunus
semakin benci dan kecewa sama Tuhan, sehingga dia merasa hidup ini tidak ada
artinya, sehingga dia mengatakan “lebih baik aku mati saja,” dari pada melihat
musuhnya masih hidup. Jadi kecemburuan
dan iri hati hampir menghabisi nyawanya sendiri bukan nyawa musuhnya. Namun
melalui cara ini Tuhan mau mengajar Yunus untuk memahami Allah secara benar dan
sungguh-sungguh tentang KASIH-NYA yang besar akan dunia tanpa memandang atau
membedakan.
Saudaraku yang terkasih, amanat agung dalam versi Lukas
adalah pemberitaan berita tentang “pengampunan dosa dan pertobatan” (24:47).
Berita tersebut menjadi tugas gereja yang harus diberitakan kepada manusia di
bumi. Karena itu, sebagai anak Allah
perlu melakukan perkara besar ini kepada siapa saja yang dianggap mengganggu
atau musuh. Iri hati dan kecemburuan
bahkan permusuhan / perselisihan membawa diri sendiri kepada kehancuran. Itulah
sebab perlu adanya inisiatif dari
dalam dirinya untuk mengasihi musuh, bersikap
positif atas segala persoalan dan selalu didasari dengan kasih agape (bukan kasih eros atau fhileo). Memang sulit dipraktekan, namun percayalah
dan berserah kepada Allah, maka PASTI Dia akan memampukan saudara untuk
melakukan perkara besar ini sebelum sambut jumaat agung. SAMBUTLAH PASKAH
DENGAN SUKACITA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar