Rabu, 17 April 2013

KRISTUS MEMPERSATUKAN KITA


Oleh: Ev. Lenis Kogoya.

Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu…." (Efesus 2:11-22).

Hidup dalam persatuan dan kekeluargaan sebagai keluarga Allah merupakan kerinduan dan harapan Bapa di surga bagi umat-Nya di bumi. Persatuan dan kebersamaan tersebut dapat dipahami dalam konteks kebersamaan dalam keberagaman. Hal itu sebagaimana terlihat dalam doa Tuhan Yesus dalam Injil Yohanes pasal 17, di mana diharapkan agar  dalam keberbedaan karakter dan latar belakang menjadi satu sehingga goalnya tercapai. Jadi perbedaan hendaknya menjadi kekuatan untuk saling mengisi, sehingga mempersempit ruang perselisihan, percekcokan dan permusuhan yang dapat menjadi tembok pemisah antara dengan yang lain sebagai umat Allah.

Dalam teks bacaan di atas mencenritakan sebuah kisah kehidupan yang saling bertentangan dan ketidakcocokan antara kehidupan komunitas Yahudi dan non Yahudi. Orang Yahudi menganggap bahwa dirinya adalah umat Yahweh, sehingga tidak cocok hidup dan bergaul dengan orang di luar komunitas tersebut. Orang bukan Yahudi dianggap sebagai kafir dan penyembah dewa-dewi, bukan TUHAN. Dan sistem dan tatanan, bahkan keyakinan tersebut menjadi tembok yang memisahkan kedua komunitas di atas. Karena itu rasul Paulus menggambarkan bahwa saling jauh menjauh antara satu dengan yang lain, bahkan jauh dengan Allah, sebab hal itu bukan kerinduan Allah.  Oleh karena itu, karya Kristus di Kalvari menghancurkan tembok pemisah buatan komunitas itu dan mempersatukan keduanya. Tidak ada perbedaan, tidak ada orang Yahudi dan non Yahudi, tidak ada tembok pemisah, tidak saling jauh, tetapi SATU DI DALAM YESUS. Itulah yang disebutkan oleh sang Rasul bahwa “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh (ay. 19-22).   
Jadi melalui peristiwa kebangkitan Kristus, terbukalah suatu kepastian akan keselamatan Allah dan pengampunan dosa. Jika demikian, bagaimanakah sikap kita dalam memaknai dan merespon peristiwa karya Kristus? Apakah kita lebih cenderung hidup dalam kesuraman hidup, sehingga kita tidak mampu melihat kehadiran Kristus di tengah-tengah kita? Tanpa sikap iman yang tepat, kita akan selalu terjebak dalam tembok kesedihan, sikap egoisme, ketakutan dan sikap eksklusif karena merasa diri superior. Semua tembok tersebut merupakan belenggu yang mematikan diri kita untuk menyambut kuasa kemenangan Kristus atas maut. Sebaliknya dengan sikap iman kita akan dilengkapi dan diperbaharui oleh kuasa kematian dan kebangkitan Kristus yang meruntuhkan setiap tembok penghalang. Bagaimanakah kini sikap saudara? Apakah ada tembok yang sengaja diciptakan untuk memisahkan diri dengan keluarga Allah atau dengan Allah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar