Oleh: Ev. Lenis Kogoya.
“Tetapi
sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah
menjadi "dekat" oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua
pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia
telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk
menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan
itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam
satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib
itu…." (Efesus 2:11-22).
Hidup dalam persatuan dan kekeluargaan
sebagai keluarga Allah merupakan kerinduan dan harapan Bapa di surga bagi
umat-Nya di bumi. Persatuan dan kebersamaan tersebut dapat dipahami dalam
konteks kebersamaan dalam keberagaman. Hal itu sebagaimana terlihat dalam doa
Tuhan Yesus dalam Injil Yohanes pasal 17, di mana diharapkan agar dalam keberbedaan karakter dan latar belakang
menjadi satu sehingga goalnya tercapai. Jadi perbedaan hendaknya menjadi
kekuatan untuk saling mengisi, sehingga mempersempit ruang perselisihan,
percekcokan dan permusuhan yang dapat menjadi tembok pemisah antara dengan yang
lain sebagai umat Allah.
Dalam teks bacaan di atas mencenritakan
sebuah kisah kehidupan yang saling bertentangan dan ketidakcocokan antara kehidupan
komunitas Yahudi dan non Yahudi. Orang Yahudi menganggap bahwa dirinya adalah
umat Yahweh, sehingga tidak cocok hidup dan bergaul dengan orang di luar
komunitas tersebut. Orang bukan Yahudi dianggap sebagai kafir dan penyembah dewa-dewi,
bukan TUHAN. Dan sistem dan tatanan, bahkan keyakinan tersebut menjadi tembok
yang memisahkan kedua komunitas di atas. Karena itu rasul Paulus menggambarkan
bahwa saling jauh menjauh antara satu dengan yang lain, bahkan jauh dengan
Allah, sebab hal itu bukan kerinduan Allah.
Oleh karena itu, karya Kristus di Kalvari menghancurkan tembok pemisah
buatan komunitas itu dan mempersatukan keduanya. Tidak ada perbedaan, tidak ada
orang Yahudi dan non Yahudi, tidak ada tembok pemisah, tidak saling jauh,
tetapi SATU DI DALAM YESUS. Itulah yang disebutkan oleh sang Rasul bahwa “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan
pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota
keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan
Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih
tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga
turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh (ay. 19-22).
Jadi melalui
peristiwa kebangkitan Kristus, terbukalah suatu kepastian akan keselamatan
Allah dan pengampunan dosa. Jika demikian, bagaimanakah sikap kita dalam
memaknai dan merespon peristiwa karya Kristus? Apakah kita lebih cenderung
hidup dalam kesuraman hidup, sehingga kita tidak mampu melihat kehadiran Kristus
di tengah-tengah kita? Tanpa sikap iman yang tepat, kita akan selalu terjebak
dalam tembok kesedihan, sikap egoisme, ketakutan dan sikap eksklusif karena
merasa diri superior. Semua tembok tersebut merupakan belenggu yang mematikan
diri kita untuk menyambut kuasa kemenangan Kristus atas maut. Sebaliknya dengan
sikap iman kita akan dilengkapi dan diperbaharui oleh kuasa kematian dan kebangkitan
Kristus yang meruntuhkan setiap tembok penghalang. Bagaimanakah kini sikap
saudara? Apakah ada tembok yang sengaja diciptakan untuk memisahkan diri dengan
keluarga Allah atau dengan Allah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar