Oleh Ev. Lenis Kogoya
”Berfirmanlah
TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan
dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan
membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat
namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang
yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan
olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Lalu pergilah Abram
seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan
dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran” (Kej. 12:1-9).
Tidak ada alasan untuk tidak hidup beriman bagi setiap oang percaya. Salah
satu ciri seorang anak Tuhan adalah hidup di dalam iman. Perhatikan definisi
iman dalam Ibrani 11:1, dan bagaimana teladan 10 tokoh Alkitab, orang-orang
beriman dalam Ibrani 11:4-31. Orang percaya hidup dan memiliki pengharapan di
dalam Yesus hanya karena iman. Karena memiliki makna penting bagi orang percaya
untuk menghadapi kehidupannya sebagai orang percaya.
Abram menjadi sosok yang penting dan figur dapat
diteladani oleh setiap orang percaya dalam segala zaman hingga saat ini. Abram
yang juga disebut Abraham ini menjadi figur yang dikagumi tidak hanya oleh
orang Israel tetapi juga oleh gereja Tuhan hingga dewasa ini. Hal ini memang
telah diprediksi dalam bacaan kita bahwa ”membuat namamu masyhur,” bahkan
karena dia menjadi bekat bagi dunia (janji Mesianik). Itulah sebabnya reputasinya
dicatat dalam Alkitab, bahwa Abraham adalah ”sahabat Allah” (Yak.2:23), Abraham
adalah bapa oang beiman (Rm. 4:16; Gal. 3:6,7). Artinya Abraham menjadi pribadi
yang luar biasa dan figur yang patut diteladani oleh setiap orang yang mau
hidup beriman kepada Allah. Dan setiap orang yang mau beriman kepada Allah,
hendaknya sesuai dengan standart iman yang dialami dan jalani oleh bapa orang
beriman tersebut, yakni bapa Abraham.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Hidup beriman
kepada Allah merupakan sesuatu yang mutlak bagi setiap yang percaya Allah. Dalam
menjalani kehidupan kekristenan di bumi ini selalu hidup bergantung dan
bersandar kepada Allah. Ingat saudaraku, Tuhan mau berperkara dan hendak
menyatakan kuasa-Nya melalui kita, asal beriman dan berserah sepenuhnya,
kemudian mengambil tindakkan iman di dalam menghadapi realitas hidup ini. Dan
situlah kita akan memahami arti hidup beriman dan manfaat iman bagi realitas
hidup seorang anak Tuhan. Sebab Alkitab berkata bahwa iman itu harus hidup
melalui tindakkan, sebab jika kita beriman tetapi tidak ada tindakkan nyata,
maka itu artinya iman yang mati. Karena itu, mari kita BELAJAR BERIMAN melalui
pengalaman Abraham, yakni seorang sosok yang patut diteladani oleh semua orang
beriman di semua generasi di seluruh dunia.
Bagaimana kita ”belajar beriman” kepada Allah di
dalam realitas hidup ini? Kurang lebih ada 3 langkah yang diambil oleh Abraham.
Pertama: Mendengar dan merespons dengan iman (ay. 1-3). Abraham adalah salah
satu orang di negeri Ur-Kasdim yang menyembah ilah lain. Dia bukan orang yang
layak menjadi sosok seperti di atas. Namun Allah menyampaikan janji berkat
kepadanya dalam kondisi itu. Kemudian Abraham mendengar suara Tuhan itu sebagai
sesuatu yang berbeda dan langsung merespon suara Tuhan. Jadi Abraham mendapat
kasih karunia dari Allah. Kedua: Bertindak dengan iman (ay. 4-6). Setelah ia
mendengar dan merespon suara Tuhan, langkah kedua yang diambil oleh Abraham
adalah langsung berindak, yaitu berangkat dari negerinya meskipun ia belum
mengetahui tempat yang dituju oleh Allah. Abraham tidak menunda-nunda waktu dan
tidak berkomentar ketika mendengar surana Tuhan itu. Ketiga: Allah bertindak
atau bekerja melalui tindakkan iman (ay. 7-9). Ternyata tempat yang ditempuh
oleh Abraham itu adalah sesuai dengan daerah yang dimaksudkan oleh Allah.
Abraham sudah melakukan apa yang menjadi bagiannya dan sesuai dengan hati
Allah.
Saudaraku, kita menyembah
Allah yang sama, ada di bumi yang sama dan kita adalah manusia yang sama
seperti Abraham. Yang membedakan hanyalah waktu. Kita bisa seperti Abraham. Namun
pertenyaan adalah Apakah Anda mau
belajar beriman kepada Allah di dalam realitas kehidupan yang luar biasa ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar