Rabu, 17 April 2013

BELAJAR BERIMAN


Oleh Ev. Lenis Kogoya

”Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran (Kej. 12:1-9).

Tidak ada alasan untuk tidak  hidup beriman bagi setiap oang percaya. Salah satu ciri seorang anak Tuhan adalah hidup di dalam iman. Perhatikan definisi iman dalam Ibrani 11:1, dan bagaimana teladan 10 tokoh Alkitab, orang-orang beriman dalam Ibrani 11:4-31. Orang percaya hidup dan memiliki pengharapan di dalam Yesus hanya karena iman. Karena memiliki makna penting bagi orang percaya untuk menghadapi kehidupannya sebagai orang percaya.

Abram menjadi sosok yang penting dan figur dapat diteladani oleh setiap orang percaya dalam segala zaman hingga saat ini. Abram yang juga disebut Abraham ini menjadi figur yang dikagumi tidak hanya oleh orang Israel tetapi juga oleh gereja Tuhan hingga dewasa ini. Hal ini memang telah diprediksi dalam bacaan kita bahwa ”membuat namamu masyhur,” bahkan karena dia menjadi bekat bagi dunia (janji Mesianik). Itulah sebabnya reputasinya dicatat dalam Alkitab, bahwa Abraham adalah ”sahabat Allah” (Yak.2:23), Abraham adalah bapa oang beiman (Rm. 4:16; Gal. 3:6,7). Artinya Abraham menjadi pribadi yang luar biasa dan figur yang patut diteladani oleh setiap orang yang mau hidup beriman kepada Allah. Dan setiap orang yang mau beriman kepada Allah, hendaknya sesuai dengan standart iman yang dialami dan jalani oleh bapa orang beriman tersebut, yakni bapa Abraham.        

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Hidup beriman kepada Allah merupakan sesuatu yang mutlak bagi setiap yang percaya Allah. Dalam menjalani kehidupan kekristenan di bumi ini selalu hidup bergantung dan bersandar kepada Allah. Ingat saudaraku, Tuhan mau berperkara dan hendak menyatakan kuasa-Nya melalui kita, asal beriman dan berserah sepenuhnya, kemudian mengambil tindakkan iman di dalam menghadapi realitas hidup ini. Dan situlah kita akan memahami arti hidup beriman dan manfaat iman bagi realitas hidup seorang anak Tuhan. Sebab Alkitab berkata bahwa iman itu harus hidup melalui tindakkan, sebab jika kita beriman tetapi tidak ada tindakkan nyata, maka itu artinya iman yang mati. Karena itu, mari kita BELAJAR BERIMAN melalui pengalaman Abraham, yakni seorang sosok yang patut diteladani oleh semua orang beriman di semua generasi di seluruh dunia.   

Bagaimana kita ”belajar beriman” kepada Allah di dalam realitas hidup ini? Kurang lebih ada 3 langkah yang diambil oleh Abraham. Pertama: Mendengar dan merespons dengan iman (ay. 1-3). Abraham adalah salah satu orang di negeri Ur-Kasdim yang menyembah ilah lain. Dia bukan orang yang layak menjadi sosok seperti di atas. Namun Allah menyampaikan janji berkat kepadanya dalam kondisi itu. Kemudian Abraham mendengar suara Tuhan itu sebagai sesuatu yang berbeda dan langsung merespon suara Tuhan. Jadi Abraham mendapat kasih karunia dari Allah. Kedua: Bertindak dengan iman (ay. 4-6). Setelah ia mendengar dan merespon suara Tuhan, langkah kedua yang diambil oleh Abraham adalah langsung berindak, yaitu berangkat dari negerinya meskipun ia belum mengetahui tempat yang dituju oleh Allah. Abraham tidak menunda-nunda waktu dan tidak berkomentar ketika mendengar surana Tuhan itu. Ketiga: Allah bertindak atau bekerja melalui tindakkan iman (ay. 7-9). Ternyata tempat yang ditempuh oleh Abraham itu adalah sesuai dengan daerah yang dimaksudkan oleh Allah. Abraham sudah melakukan apa yang menjadi bagiannya dan sesuai dengan hati Allah.

Saudaraku, kita menyembah Allah yang sama, ada di bumi yang sama dan kita adalah manusia yang sama seperti Abraham. Yang membedakan hanyalah waktu. Kita bisa seperti Abraham. Namun pertenyaan adalah Apakah Anda mau belajar beriman kepada Allah di dalam realitas kehidupan yang luar biasa ini?                            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar