BACK TO THE BIBLE
Revelation 2:1-7
“2:4 Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. 2:5 Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.... 2:7 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah." (Why. 2:1-7)
Introduksi:
1. Segi Politis. Efesus dahulu disebut “kota utama dari Asia.” Artinya kota ini merupakan sebuah kota yang penting secara politik. Kota ini disebut “kota merdeka,” sehingga pemerintah Romawi mengizinkan penduduk Efesus mengurus pemerintahannya secara otonom. Tidak ada tentara Romawi yang ada di sana. Pemerintah Efesus memilih majelisnya sendiri dan panitera kota itu memegang seluruh arsip kota tersebut sebagaimana disebutkan dalam Kisah Rasul 19:35. Dan sewaktu-waktu gubernur Romawi turun / berkunjung ke Efesus untuk menghakimi perkara-perkara besar.
2. Segi Agamis. Efesus merupakan sebuah kota terkemuka di dalam masa kekaisaran Romawi. Kota Efesus juga menjadi pusat penyembahan para kaisar dan rakyatnya, sebab di sini terletak sebuah kuil terbesar dan terkenal, yakni kuil Arthemis (Kis. 19:35) dan ada kuil besar lainnya. Itulah sebabnya kota ini diberi gelar sebagai “penjaga kuil.” Jadi pusat penyembahan kekaisaran Romawi dipusatkan di kota ini.
3. Segi Geografis. Kota Efesus terletak di muara sungai Kaister yang juga merupakan sebuah pelabuhan terbesar di Asia kecil. Kota ini menjadi pusat dan tujuan perdagangan dari seluruh Asia. Jalan raya dari timur seperti Kolose dan Laodikia melewati kota Efesus, demikian juga seperti selatan. Posisi kota ini sangat strategis, sehingga dijadikan pusat perdagangan dan perniagaan. Kota ini amat sangat kaya di Asia Kecil. Bahasa yang mempersatukan di kekaisaran ini hanya dengan satu bahasa saja, yaitu bahasa “koine” bahasa Yunani, sehingga kekristenan dapat dengan segera berkembang dan tersebar. Jika kita telusuri ATLAS dunia, maka kota Efesus yang dimaksudkan dalam Alkitab ini adalah kini menjadi kota Turki. (silahkan Anda telusuri seluk beluk kota ini dan hubungkan dengan Alkitab).
4. Segi Situasi Jemaat Efesus. Rasul Paulus sejak menanam hingga membangun dalam pertumbuhan jemaat Efesus kira-kira 3 tahun. Pekerjaan Paulus di jemaat ini sangat diberkati oleh Tuhan, sehingga sangat pesat dan jemaat yang termasyhur di Asia. Kemudian menetapkan Timotius sebagai gembala sidang di jemaat ini, namun Timotius mati sahid di situ di bawah pemerintahan Kaisar Domitian yang kejam itu. Pada saat itu juga rasul Yohanes dibuang ke pulau Patmos. Dan rupanya rasul Yohanes menurut saya adalah “pemimpin dari gereja-gereja di seluruh Asia Kecil, semacam ketua wilayah menurut struktur pemerintahan denominasi GIDI” (menurut penulis article ini). Tetapi tempat tinggal atau rumah dari rasul Yohanes adalah di Efesus. Ketika pada masa tuanya ia ditangkap dan dibuang di pulau Patmos oleh kaisar Domitian.
Dalam kondisi inilah rasul Paulus memulai pelayanan penginjilan dan mendirikan jemaat. Kisah pendirian jemaat ini telah dibukukan secara lengkap dan cermat oleh Tabib Lukas yang dapat dibaca di dalam Kisah Para Rasul pasal 18:19 s/d 20. Di Jemaat Efesus inilah rasul Paulus menjadikan pusat pekabaran injil untuk seluruh wilayah itu. Rasul Paulus juga setiap kali menjadikan ruang kuliah kampus Tiranus sebagai pusat pekabaran injil kepada orang Yunani dan Yahudi, sehingga banyak orang yang mendengar Firman Allah (Kis. 19:9-11). Jemaat Kristus di Efesus sangat maju sehingga menjadi besar dan berpengaruh di seluruh Asia Kecil. Dan jemaat Efesus sangat disukai banyak orang sesuai arti nama arti Efesus “dirindui” atau diinginkan. Akhirnya jemaat ini tidak hanya setia mendengar Firman Allah, melainkan juga setia di dalam penginjilan.
Jemaat Efesus pada saat kitab ini (Kitab Wahyu) ditulis merupakan jemaat terkemuka di Timur, yaitu kira-kira 35 tahun kemudian setelah jemaat ini didirikan atau kira-kira 50 an tahun setelah gereja lahir (hampir sama dengan usia GIDI). Dikatakan demikian, karena kitab Wahyu ini menurut para ahli Perjanjian Baru adalah sekitar tahun 54 – 57 AD. Namun ketika kitab ini ditulis, kondisi iman dan kesetiaan jemaat Efesus kepada sungguh-sungguh berubah dan tidak lagi berada pada kehendak Allah. Menurut para ahli teologi mengatakan bahwa “ketika kitab ini ditulis, jemaat kota ini belum terlalu jatuh sehingga masih ada kesempatan untuk bertobat.” (saudara boleh setuju dan boleh tidak). Tetapi jika saudara mengamati seluk beluk kota Turki (kini) dan Efesus (Alkitab), maka perubahannya cukup besar, bahkan hampir tidak ada kekristenan di sana, sebab Turki menjadi salah negara Muslim di Asia.
Oleh karena itu, sebelum hal itu terjadi firman Tuhan di ilhamkan melalui perantaraan rasul Yohanes, penulis Injil Yohanes dan surat-surat Yohanes ini untuk disampaikan malaikat (gembala sidang) jemaat Efesus. Perhatikan firman Allah yang dikutip di atas. Yesus Kristus yang adalah alpha dan omega itu mencela karena jemaat itu berubah dan berbalik dari kesetiaan dan kasih yang mula-mula. Kasih mula-mula yang dimaksudkan di sini adalah kasih yang lahir dan dirasakan dari dalam sanubari yang hasilkan melalui jamahan kuasa Roh Kudus yang terjadi secara vertikal, kemudian dinyatakan dalam kehidupan praktis melalui mengasihi sesama secara horizontal dengan cara menyelamatkan orang berdosa dengan pekabaran injil dan kesasksian hidup. Jadi di sini berbicara tentang penginjilan yang telah dilakukan sebelumnya, sebab hal itu sudah berubah.
Tetapi sebenarnya Yesus Kristus masih mau memberikan kesempatan kepada jemaat ini apabila mereka bertobat. Hal ini terutama diperingatkan kepada para pemimpin gereja, sebab yang dimaksudkan “malaikat jemaat” di sini harus dimengerti sebagai pemimpin jemaat. Apabila tidak bertobat, maka mereka terancam dengan berfirman bahwa “Aku akan mengambil kaki dianmu ...” artinya Tuhan akan membiarkan mereka dikuasai oleh kuasa kegelapan dunia, sebab Roh Kudus sudah bekerja lagi melalui gerejaNya. (Lihat kondisi jemaat Efesus yang berubah menjadi Turki sekarang). Kemudian firman Allah di sini diakhiri dengan satu pernyataan yang cukup tegas, yaitu “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat ...” Pernyataan ini merupakan suatu tantangan yang membutuhkan respons yang serius oleh baik pemimpin maupun anggota jemaat dengan selalu mengingat fakta historis kepada jemaat Efesus. Sebab Jemaat Efesus adalah jemaat bintang di Asia Kecil di antara jemaat-jemaat lain, namun jatuhnya luar biasa sebagaimana kita lihat hari ini.
Refleksi!
Gereja dihadirkan Allah untuk mengasihi Allah dengan cara melaksanakan/ meneruskan misi Kristus di bumi, agar semua lidah di bumi mengaku Dia adalah Tuhan dan Allah yang hidup. Semua yang dilakukan oleh gereja hanya kepentingan Kristus, supaya semua orang memuliakan Allah. Sebaiknya perlu menghinari semua praktek yang arahnya mau mencuri kemuliaan Allah dengan semua bentuk program dan pelayanan yang ada.
Gereja harus ditempatkan pada tempat yang benar dan tepat. Gereja tidak boleh digiring oleh kepentingan dan motivasi lain selain tujuan Allah. Semua bentuk pelayanan harus diletakkan pada poros kehendak Allah atau kembali ke rell yang benar. Gereja perlu hadir di berbagai lini kehidupan manusia dengan berdiri teguh pada pendiriannya, yaitu sebagai wakil atau duta Allah di bumi.
Oleh karena itu, saya usul kepada semua pemimpin gereja, umat Allah dan generasi sebagai tulang punggung gereja, agar KITA SEMUA KEMBALI KEPADA ALKITAB. Pendekatan firman Tuhan terutama Matius 28:19-20 dan Kisah Rasul 1:8 yang merupkan karakter dan nafas gereja itu perlu didekati dengan pendekatan yang benar, dengan metode yang baik. Jika ini dilakukan, maka saya yakin bahwa umat Tuhan akan bertumbuh secara baik sebab dilayani dengan baik, kemudian beban tentang mengasihi orang berdosa itu akan dirasakan oleh jemaat (bukan dilakukan oleh sekelompok orang seperti kenyataan dewasa ini).
Pemberitahuan!
Saya setuju apabila ada saudara yang mengatakan “tulisan ini sangat subyektif” tetapi saya mau membawa pikiran kita untuk melihat bagaimana pelayanan gereja dewasa ini. Membawa pikiran kita untuk melihat “bagaimana pelayanan 10 s/d 20 tahun sesudah gereja lahir” dengan membandingkan “bagaimana pelayanan 10 s/d 20 tahun terakhir.” Masing-masing era itu segala keterbatasan dan kelebihan yang ada, kemudian melihat bagaimana pertumbuhan iman tidak hanya dilihat dari segi kuantitas, melainkan yang paling penting adalah dari segi kualitas iman jemaat. Kiranya tulisan ini mendorong kita lebih reaktif di dalam semua bentuk pelayanan yang ada. Tuhan Yesus Kristus, Kepala Gereja Injili Di Indonesia memberkati. (By: Lenko)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar