KEUNIKAN GIDI Gereja Injili Di Indonesia memiliki berbagai keunikan yang harus dilihat, terima dan diwujudkan dengan sungguh-sungguh oleh semua warga gereja ini tanpa dikontrol, dikendalikan bahkan tanpa didesak oleh berbagai kepentingan dan motivasi, kecuali hanya untuk kemuliaan nama Allah Tritunggal. Keunikan-keunikan tersebut akan dijelaskan secara singkat pada tulisan ini, yakni antara lain adalah:
1. Nama gereja: Nama wadah ini adalah Gereja Injili Di Indonesia yang disingkat dengan GIDI. Melalui nama ini memberikan kesan secara tersirat terutama kepada warga gereja ini bahwa "semua bentuk pelayanan dan kehidupannya hanya berdasarkan Alkitab (injili)," bukan berdasarkan kata orang atau kata hati. Semua bentuk pelayanan dan program hanya bersifat injili. Sedangkan tempat pelayanannya adalah Di Indonesia. Allah telah mempercayakan gereja ini untuk membawa dan menjangkau jiwa-jiwa yang ada di bumi ini. Indonesia adalah Sabang sampai Merauke. Sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki oleh gereja saat ini hanya sesuai untuk menjangkau negeri ini. Artinya, bersifat injili dan tempatnya di Indonesia.
2. Logo gereja: Logo gereja ini berbentuk lingkaran dan bulat, tanpa ujung, yaitu ada dua lingkaran (dalam dan luar). Lingkaran ini menandakan kebersamaan dan persatuan tubuh Kristus dalam wadah ini. Persatuan dan kebersamaan atau sehati. sepikir, setujuan dapat diperlihatkan mulai dari dalam atau pengurus gereja, kemudian keluar keanggota jemaat, supaya kebersamaan terjalin, sehingga dunia melihat gerejaNya menjadi seperti kerinduhan Yesus yang diungkapkan dalam doaNya di Yohanes 17. Artinya, pengurus, baik sinode, wilayah, klasis, daerah, maupun hamba-hamba Tuhan menjadi satu, kemudian umat menjadi satu.
3. Atribut gereja: Atribut yang ada dalam gereja ini adalah Alkitab dan salib Kristus. Hal ini menyatakan bahwa dasar gereja ini adalah Alkitab (PL & PB) yang memiliki otoritas tertinggi yang mutlak dipercaya dan diterima oleh seluruh warga gereja. Semua bentuk pelayanan dan program hanya berdasarkan Alkitab sebagai dasarnya. Sedangkan salib Kristus menandakan bahwa gereja ini lahir melalui kematian dan kebangkitan Kristus yang merupakan wujud kasih Allah yang agung itu. Selain itu, gereja ini memberitakan karya agung ini kepada dunia, agar dunia mengenal dan merasakan Kasih Allah itu. artinya, Gereja ini berdiri di atas dasar Alkitab, dan mengakui serta memberitakan berita tentang salib.
4. Motto gereja: Motto gereja ini adalah "MENJADI SAKSI KRISTUS" sesuai Kisah Rasul 1:8. Semua warga gereja mau hidup sebagai Kristus: DI MANAPUN, KAPANPUN, BAGAIMANAPUN, KEPADA SIAPAPUN selagi masih hidup di bumi ini.
5. Visi dan Misi Gereja: Visi dan misi gereja ini adalah "PERGI DAN MENJADIKAN SEMUA BANGSA MURID KRISTUS" sesuai dengan Matius 28:19-20. Di sini terlihat gereja punya dwitugas, yaitu menjangkau dan memuridkan orang. Dan tugas ini dijalankan secara serempak dan selaras, dan terjadi secara berkesinambungan agar terjadi multiplikasi (pelipatgandaan). Artinya, tugas menjangkau dan memuridkan itu terjadi secara serempak dan selaras sehingga sungguh-sungguh terjadi multiplikasi, sebagaimana pola yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dengan memuridkan duabelas orang untuk misi ini.
6. Tujuan gereja: Tujuan gereja ini hanya satu, yaitu "MEMPERMULIAKAN ALLAH" melalui kehidupan dan pelayanannya. Wadah ini adalah wadah ilahi, karena itu semuanya terjadi hanya untuk kemuliaan namaNya, bukan untuk kemuliaan dan kehormatan manusia. Karena itu dalam semua bentuk kehidupan dan pelayanannya harus selalu mengepankan ini, METODE pelayanan harus benar, MOTIVASI pelayanan harus benar dan MUTU atau kualitas pelayanan yang dihasilkan juga harus benar dan bertahan kekal. Semuanya ini akan dipertanggung jawabkan kepada Sang Pemberi Amanat Agung ini.
7. Warga gereja: Warga gereja ini terdiri dari bermacam-macam suku, bahasa, dan bangsa dan juga berasal dari berbagai daerah, pulau dan negara. Sungguh-sungguh terlihat tubuh Kristus di dalam gereja ini.
8. Sejarah gereja: Gereja ini lahir di tengah-tengah orang-orang yang hidup berbusanakan koteka dan cawat yang terbuat dari rumput dan kulit kayu. Gereja ini lahir di daerah yang bertembokkan gunung-gunung tebing dan perbukitan yang selalu diselimuti dengan awan dan salju. Gereja ini lahir di tengah sebuah suku yang besar yang penduduknya berdomisili di sepanjang wilayah pegunungan tengah Papua, namun memiliki batas-batas yang cukup sulit terjangkau dengan adanya batas marga, kebiasaan, golongan, bahkan dengan adanya selalu perang antar suku. Gereja ini lahir di tengah berbagai macam keterbatasan dan kekurangan, yaitu dari segi kondisi medan, kondisi geografis, kondisi cuaca, kondisi kebiasaan masyarakat dan sebagainya. Namun kuasa Injil Kristus menembus semua keterbatasan dan kekurangan, bahkan menerangi kegelapan pengunungan yang sedang diselimuti oleh kondisi awan dan salju itu.
9. Sistem pemerintahan gereja: Sistem pemeritahan ini kombinasi antara presbyterial dan congregational, yaitu pemerintahan yang tidak hanya terpaku dan berpijak dari keputusan dan kebijakan leaders church tetapi juga atas mufakat dan musyawarah sidang jemaat. Tentu kesepakatan sidang berdasarkan prinsip biblika dengan melihat kondisi pelayanan. Ini merupakan suatu sistem pemerintahan gereja yang sangat unik yang ada, dibandingkan dengan gereja-gereja lain.
10. Asset Gereja: Gereja ini memiliki asset yang cukup besar dan sangat kaya raya. Asset ini berkaitan dengan kekayaan gereja, yaitu yang bergerak dan yang tidak bergerak. Asset yang tidak bergerak adalah gedung, tanah, termasuk wilayah dan daerah pelayanan gereja dalam lingkup besar. Dalam hal ini, wilayah pelayanan basis GIDI seperti: Kabupaten Puncak Jaya, Tolikara, Yahukimo, Mamberamo Tengah, Mamberamo Raya, Jayawijaya dan beberapa kabupaten lain meskipun sebagian. Asset yang bergerak adalah terutama manusia-manusia GIDI, yaitu para kader yang pemerintahan dan para kader hamba Tuhan. Asset seperti ini tidak dimiliki oleh gereja-gereja lain. Artinya, harus diakui bahwa GIDI sangat kaya, baik dari segi yang tak bergerak, maupun yang bergerak.
11. Dan banyak keunikan lain yang ada bila dikaji secara teliti dan detail.
Apabila merenungkan kembali keunikan-keunikan seperti ini, maka bangga dan bersyukur menjadi anak GIDI. Namun sungguh-sungguh sadar sebagai generasi GIDI, bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan belum dilakukan, bahkan belum disadari atau mungkin belum dibangkit kesadaran itu oleh para pemimpin gereja kepada generasinya untuk melihat kembali keunikan-keunikan tersebut, dengan harapan bahwa semua kapasitas dan kemampuan gereja bangkit, rapatkan barisan dan maju bersama visi tersebut. Akhirnya lahan yang Tuhan percayakan, yaitu Indonesia ini kita garap dengan bergantengan tangan semua kader, mengefektifkan semua wilayah pelayanan dan melihat tonggak-tonggak historis gereja ini, agar pekerjaan-pekerjaan besar Allah di dalam GIDI tersebut diangkat, sehingga semua generasi bahkan dunia memuliakan Allah.
Oleh karena itu, GIDI menyapa para kader dan generasinya untuk tidak terhanyut dengan perkembangan dunia sekarang dan juga mengajak para pemimpin untuk menghindari terjadinya sekularisasi eksistensi GIDI dengan slogan-slogan religious yang kosong, bahkan tidak menjadikan GIDI sebagai instrumen atau anjang kepentingan lain. Tetapi kembalikan kepada rel semula dan yang sesungguhnya. Tujuan tulisan ini adalah bentuk refleksi demi terjadinya reorientasi pelayanan GIDI dengan adanya tantangan zaman agar terjadi rekonsiliasi demi terwujudnya GIDI yang kokoh di dalam mengemban visi.
______________________________ _______
* Penulis adalah Gembala Sidang pada jemaat GIDI Samaria Yogyakarta.
1. Nama gereja: Nama wadah ini adalah Gereja Injili Di Indonesia yang disingkat dengan GIDI. Melalui nama ini memberikan kesan secara tersirat terutama kepada warga gereja ini bahwa "semua bentuk pelayanan dan kehidupannya hanya berdasarkan Alkitab (injili)," bukan berdasarkan kata orang atau kata hati. Semua bentuk pelayanan dan program hanya bersifat injili. Sedangkan tempat pelayanannya adalah Di Indonesia. Allah telah mempercayakan gereja ini untuk membawa dan menjangkau jiwa-jiwa yang ada di bumi ini. Indonesia adalah Sabang sampai Merauke. Sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki oleh gereja saat ini hanya sesuai untuk menjangkau negeri ini. Artinya, bersifat injili dan tempatnya di Indonesia.
2. Logo gereja: Logo gereja ini berbentuk lingkaran dan bulat, tanpa ujung, yaitu ada dua lingkaran (dalam dan luar). Lingkaran ini menandakan kebersamaan dan persatuan tubuh Kristus dalam wadah ini. Persatuan dan kebersamaan atau sehati. sepikir, setujuan dapat diperlihatkan mulai dari dalam atau pengurus gereja, kemudian keluar keanggota jemaat, supaya kebersamaan terjalin, sehingga dunia melihat gerejaNya menjadi seperti kerinduhan Yesus yang diungkapkan dalam doaNya di Yohanes 17. Artinya, pengurus, baik sinode, wilayah, klasis, daerah, maupun hamba-hamba Tuhan menjadi satu, kemudian umat menjadi satu.
3. Atribut gereja: Atribut yang ada dalam gereja ini adalah Alkitab dan salib Kristus. Hal ini menyatakan bahwa dasar gereja ini adalah Alkitab (PL & PB) yang memiliki otoritas tertinggi yang mutlak dipercaya dan diterima oleh seluruh warga gereja. Semua bentuk pelayanan dan program hanya berdasarkan Alkitab sebagai dasarnya. Sedangkan salib Kristus menandakan bahwa gereja ini lahir melalui kematian dan kebangkitan Kristus yang merupakan wujud kasih Allah yang agung itu. Selain itu, gereja ini memberitakan karya agung ini kepada dunia, agar dunia mengenal dan merasakan Kasih Allah itu. artinya, Gereja ini berdiri di atas dasar Alkitab, dan mengakui serta memberitakan berita tentang salib.
4. Motto gereja: Motto gereja ini adalah "MENJADI SAKSI KRISTUS" sesuai Kisah Rasul 1:8. Semua warga gereja mau hidup sebagai Kristus: DI MANAPUN, KAPANPUN, BAGAIMANAPUN, KEPADA SIAPAPUN selagi masih hidup di bumi ini.
5. Visi dan Misi Gereja: Visi dan misi gereja ini adalah "PERGI DAN MENJADIKAN SEMUA BANGSA MURID KRISTUS" sesuai dengan Matius 28:19-20. Di sini terlihat gereja punya dwitugas, yaitu menjangkau dan memuridkan orang. Dan tugas ini dijalankan secara serempak dan selaras, dan terjadi secara berkesinambungan agar terjadi multiplikasi (pelipatgandaan). Artinya, tugas menjangkau dan memuridkan itu terjadi secara serempak dan selaras sehingga sungguh-sungguh terjadi multiplikasi, sebagaimana pola yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dengan memuridkan duabelas orang untuk misi ini.
6. Tujuan gereja: Tujuan gereja ini hanya satu, yaitu "MEMPERMULIAKAN ALLAH" melalui kehidupan dan pelayanannya. Wadah ini adalah wadah ilahi, karena itu semuanya terjadi hanya untuk kemuliaan namaNya, bukan untuk kemuliaan dan kehormatan manusia. Karena itu dalam semua bentuk kehidupan dan pelayanannya harus selalu mengepankan ini, METODE pelayanan harus benar, MOTIVASI pelayanan harus benar dan MUTU atau kualitas pelayanan yang dihasilkan juga harus benar dan bertahan kekal. Semuanya ini akan dipertanggung jawabkan kepada Sang Pemberi Amanat Agung ini.
7. Warga gereja: Warga gereja ini terdiri dari bermacam-macam suku, bahasa, dan bangsa dan juga berasal dari berbagai daerah, pulau dan negara. Sungguh-sungguh terlihat tubuh Kristus di dalam gereja ini.
8. Sejarah gereja: Gereja ini lahir di tengah-tengah orang-orang yang hidup berbusanakan koteka dan cawat yang terbuat dari rumput dan kulit kayu. Gereja ini lahir di daerah yang bertembokkan gunung-gunung tebing dan perbukitan yang selalu diselimuti dengan awan dan salju. Gereja ini lahir di tengah sebuah suku yang besar yang penduduknya berdomisili di sepanjang wilayah pegunungan tengah Papua, namun memiliki batas-batas yang cukup sulit terjangkau dengan adanya batas marga, kebiasaan, golongan, bahkan dengan adanya selalu perang antar suku. Gereja ini lahir di tengah berbagai macam keterbatasan dan kekurangan, yaitu dari segi kondisi medan, kondisi geografis, kondisi cuaca, kondisi kebiasaan masyarakat dan sebagainya. Namun kuasa Injil Kristus menembus semua keterbatasan dan kekurangan, bahkan menerangi kegelapan pengunungan yang sedang diselimuti oleh kondisi awan dan salju itu.
9. Sistem pemerintahan gereja: Sistem pemeritahan ini kombinasi antara presbyterial dan congregational, yaitu pemerintahan yang tidak hanya terpaku dan berpijak dari keputusan dan kebijakan leaders church tetapi juga atas mufakat dan musyawarah sidang jemaat. Tentu kesepakatan sidang berdasarkan prinsip biblika dengan melihat kondisi pelayanan. Ini merupakan suatu sistem pemerintahan gereja yang sangat unik yang ada, dibandingkan dengan gereja-gereja lain.
10. Asset Gereja: Gereja ini memiliki asset yang cukup besar dan sangat kaya raya. Asset ini berkaitan dengan kekayaan gereja, yaitu yang bergerak dan yang tidak bergerak. Asset yang tidak bergerak adalah gedung, tanah, termasuk wilayah dan daerah pelayanan gereja dalam lingkup besar. Dalam hal ini, wilayah pelayanan basis GIDI seperti: Kabupaten Puncak Jaya, Tolikara, Yahukimo, Mamberamo Tengah, Mamberamo Raya, Jayawijaya dan beberapa kabupaten lain meskipun sebagian. Asset yang bergerak adalah terutama manusia-manusia GIDI, yaitu para kader yang pemerintahan dan para kader hamba Tuhan. Asset seperti ini tidak dimiliki oleh gereja-gereja lain. Artinya, harus diakui bahwa GIDI sangat kaya, baik dari segi yang tak bergerak, maupun yang bergerak.
11. Dan banyak keunikan lain yang ada bila dikaji secara teliti dan detail.
Apabila merenungkan kembali keunikan-keunikan seperti ini, maka bangga dan bersyukur menjadi anak GIDI. Namun sungguh-sungguh sadar sebagai generasi GIDI, bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan belum dilakukan, bahkan belum disadari atau mungkin belum dibangkit kesadaran itu oleh para pemimpin gereja kepada generasinya untuk melihat kembali keunikan-keunikan tersebut, dengan harapan bahwa semua kapasitas dan kemampuan gereja bangkit, rapatkan barisan dan maju bersama visi tersebut. Akhirnya lahan yang Tuhan percayakan, yaitu Indonesia ini kita garap dengan bergantengan tangan semua kader, mengefektifkan semua wilayah pelayanan dan melihat tonggak-tonggak historis gereja ini, agar pekerjaan-pekerjaan besar Allah di dalam GIDI tersebut diangkat, sehingga semua generasi bahkan dunia memuliakan Allah.
Oleh karena itu, GIDI menyapa para kader dan generasinya untuk tidak terhanyut dengan perkembangan dunia sekarang dan juga mengajak para pemimpin untuk menghindari terjadinya sekularisasi eksistensi GIDI dengan slogan-slogan religious yang kosong, bahkan tidak menjadikan GIDI sebagai instrumen atau anjang kepentingan lain. Tetapi kembalikan kepada rel semula dan yang sesungguhnya. Tujuan tulisan ini adalah bentuk refleksi demi terjadinya reorientasi pelayanan GIDI dengan adanya tantangan zaman agar terjadi rekonsiliasi demi terwujudnya GIDI yang kokoh di dalam mengemban visi.
______________________________
* Penulis adalah Gembala Sidang pada jemaat GIDI Samaria Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar